Cari uang dan hasilkan profit di internet
BELAJARLAH! SESUNGGUHNYA TIDAKLAH MANUSIA ITU DILAHIRKAN DALAM KEADAN PANDAI

Definisi Raja' dan Khauf

>> Senin, 08 Februari 2010

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, serta inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah kami dengan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad saw yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang penuh cahaya yaitu agama islam.
Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas mata kuliah tasawuf, tujuannya tidak lain untuk melatih mahasiswa agar dapat membuat karya ilmiah yang baik dan benar.
Ucapan terima kasih kami tujukan kepada:
Bapak H. Abdus Salam Ar,Mm. selaku dosen pengampu mata kuliah
Para dosen Inkafa yang secara tidak langsung telah membekali penulis dalam penyusunan makalah ini.
Kepada semua yang terlibat dalam penulisan makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari sempurna. Maka dari itu, penulis menghargai kritik dan saran yang konstruktif untuk kesempurnaan makalah kami ini. Akhirnya hanya kepada Allah kami mengharap ridlo agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya untuk pemakalah dan para pembaca pada umumnya.




















BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia di dunia tujuannya tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah swt, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman-Nya; “Dan tidak Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Allah). Maka dari itu wajib bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah swt yaitu dengan beribadah kepada-Nya. Adapun tata cara beribada telah dicotohkan oleh rasul-Nya Muhammad saw. Adapun hakikat beribadah adalah wushul (sampai) kepada Allah swt. Terdapat tujuh tahapan untuk bisa mencapainya yaitu; tahapan ilmu, tobat, rintangan, godaan, pendorong, penoda dan perusak ibadah, dan tahapan puji dan syukur.
Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba menguraikan tentang tahapan yang kelima yaitu tahapan pendorong yang di dalamnya berisi tentang berharap kepada Allah swt (al-raja’) dan takut kepada-Nya (al-khauf).



B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian al-raja’ dan al-khauf itu?
2. Apa hakikat al-raja’ dan al-khauf itu?
3. Apa dasar dari al-raja’ dan al-khauf itu?







BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Al-Raja’ Dan Al-Khauf
Al-Raja’ (harapan,berharap) adalah ketergantungan hati kepada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana al-khauf yang berhubungan dengan sesuatu yang akan terjadi di masa yang kan datang. Maka demikian juga dengan al-raja’ akan membawa implikasi terhadap hal yang dicita-citakan di masa yang akan datang. Dengan raja’ maka hati akan menjadi hidup dan merdeka.
Perbedaan antara raja’ dan tamanni (berangan-angan pada sesuatu yang mustahil) adalah terletak pada nilai dan dampaknya. Tamanni dapat mengakibatkan orang menjadi malas dan tidak mau berjerih payah dan sungguh-sungguh. Sedangkan raja’ adalah kebalikan dari tamanni. Raja’ merupakan perbuatan terpuji , sedangkan tamanni adalah merupakan perbuatan tercela.
Menurut Ibnu al-Jalla’, yang di maksud dengan orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan. Menurut satu pendapat, yang di maksud orang yang takut adalah bukan orang yang menangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut siksa.
Abd. Qasim al-Hakim berpendapat; khauf mempunyai dua bentuk, yaitu rahbah dan khassyah. Yang di maksud orang yang rahbah adalah orang yang berlindung kepada Allah swt. Ada yang berpendapat; kata “rahiba” dan “haraba” boleh diungkapkan karena keduanya mempunyai arti satu, seperti kata “jadzaba” dan “jaladza”. Sebagai contoh; apabila “dia” lari. Maka kata “dia” dapat ditarik dalam pengertian hawa nafsunya seperti para pendeta yang mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu, apabila mereka ditarik oleh kendali ilmu dan mereka melaksanakan kebenaransyari’at, maka pengertian tersebut disebut khassyah.
Allah swt memuji orang-orang mukmin karena ketakutannya. Sebagaimana firman-Nya;
يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ
“mereka itu (malaikat) takut kepada tuhan mereka yang di atas mereka”
(q.s. al-nahl; 50)

Di antara ayat-ayat yang menerangkan tentang raja’ di antaranya adalah;
لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّاللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”(Q.S. az-Zumar; 53)
إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. 2 Al Baqarah; 143)


Hakikat Raja’dan Khauf
Raja’ dan khauf menurut ulama’ sufi berarti kembali pada bagian khiwatir, yakni hal-hal yang belum dapat diketahui dengan pasti. Adapun yang dapat di capai seseorang hanyalah muqaddimah (pendahuluannya) saja.
Sedang menurut ulama’ kita. Khauf adalah suatu getaran dalam hati tatkala ada perasaan akan menemui hal-hal yang tidak disukai. Demikian pula khasyyiah (takut).
Perbedaan khauf dan khasyah, bila khasyah diserta perasaan mengagungkan dan kagum, seperti takut kepada Allah. Sedangkan khauf adalah berani atau merasa aman. Tapi sebenarnya lawannya takut adalah berani.
Selanjutnya kata ulama; yang di maksud dengan takut bukan berarti seseorang harus menangis, tetapi orang yang benar-benar takut adalah meningkatkan menjauhi perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Sebagaiman Allah swt berfirman; “tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman”. Dengan demikian khauf adalah syarat iman, yakni seseorang dikatakan tidak beriman jika tidak takut kepada Allah swt.
Dengan demikian berarti muqaddimah khauf terdiri dari empat hal;
Mengingat segala dosa yang telah diperbuat, serta banyaknya musuh yang membawa pada kedzaliman sedangkan kita tidak dapat lepas darinya.
Mengingat beratnya siksa Allah bagi orang-orang yang durhaka dan kita tidak akan kuat menanggungnya.
Senantiasa sadar akan kelemahan diri dalam menanggung pedihnya siksa.
Selalu ingat kekuasaan Allah terhadap diri kita, Dia (Allah) dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya.
Syekh Sahal mengatakan sempurnanya iman adalah dengan ilmu dan sempurnanya ilmu ini dengan rasa takut. Belum cukup iman seseorang jika tanpa ilmu dan tidak cukup ilmu seseorang jika tidak disertai dengan rasa takut.

Dasar dari Sifat Raja’ dan Khauf
Keharusan seseorang memiliki rasa takut didasarkan atas dua hal;
Agar terhindar dari kemaksiatan, sebab nafsu yang senantiasa mengajak berbuat jahat itu cenderung melakukan hal yang tidak baik. Nafsu tidak akan berhenti berbuat jahat kecuali jika diancam. Cara mengatasi nafsu harus dilecut dan dicambuk sehingga dapat membuatnya jerah dan takut, baik berupa ucapan, tindakan, atau pikiran.
Agar tidak membangga-banggakan amal solehnya (ujub). Sebab jika sampai berbuat ujub maka dapat menimbulkan celaka dan nafsu itu tetap harus dipaksa dengan dicela dan dihinakan mengenai apa yang ada padanya, berupa kejahatan, dosa-dosa dan berbagai macam bahaya lainnya.

Adapun keharusan memiliki rasa raja’ juga dikarenakan dua hal, yaitu;
Agar bersemangat melakukan ketaatan, sebab berbuat baik itu berat dan syaitan selalu mencegahnya. Hawa nafsu selalu mengajak pada perbuatan yang jelek dan tidak baik. Kebanyakan orang memenuhi hawa nafsunya, sedangkan pahala itu tidak kelihatan, dengan demikian tentu nafsu tidak mau dan tidak semangat dalam melakukan kebaikan. Dalam menghadapi hal ini harus dihadapi dengan raja’, yakni rasa mengharap rahmat Allah dan kebaikan pahalanya agar senantiasa bersemangat dalam beribadah dan berbuat baik.
Agar terasa ringan menanggung rasa kesulitandan kesusahan. Karena jika seseorang telah mengetahui sesuatu yang telah menjadi tujuantentu seseorang tersebut akan rela berbuat apapun dan mengeluarkan apapun demi tercapainya tujuan tersebut.
Jadi pokok urusan ibadah itu berkisar pada dua hal, yaitu melakukan taat kepada Allah dan menghentikan perbuatan maksiat. Keduanya tidak akan berjalan dengan baik dan sempurna jika nafsu masih saja menguasai kita dan selalu mengajak kita berbuat kejahatan atau maksiat.
Dengan demikian seseorang harus memiliki rasa takut pada adzab Allah swt yang amat sangat pedih (khauf) dan harapan akan janji-janji Allah (raja’) agar tujuan ibadah kita dapat tecapai dan terasa ringan dalam menghadapi persoalan dan ujian dalam menjalankan ibadah kepada Allah swt. Syaikh al-Hadramy mengatakan bahwa tanda-tanda raja’ itu adalah takut.
Ibnu Khulud membagi raja’ dengan tiga bagian, yaitu;
Seseorang berbuat kebaikan, kemudian berharap agar diterima. Ini raja’ yang benar.
Seseorang yang melakukan keburukan, kemudian bertaubat dan mengharap ampunan Allah. Inipun termasuk raja’.
Seseorang yang selalu bebuat dosa dan enggan bertaubat,kemudian ia berkata; “semoga Allah mengampuniku”. Ini tidak termasuk raja’.
Maka wajib bagi kita menempuh tahapan pendorong ini dengan penuh sungguh-sungguh. Sebab tahapan ini sangat sulit dan banyak mengandung bahaya, dikarenakan berada di antara dua jurang yang menakutkan dan mematikan yaiut, merasa aman dan murka Allah.
Jalan yang paling lurus adalah menghimpun raja’ dan khauf yakni jalan yang ditempuh para wali Allah dan orang-orang pilihan.
Dengan begitu tahapan ini terdiri dari tiga jalan yaitu;
1. Merasa aman dan berani
2. Berputus asa
3. Khauf dan raja’
Jika seseorang terpeleset dari salah satunya maka celakalah dia. Adapun orang yang senantiasa mengingat Allah ia akan aman dari murka Allah.
Maka hendaklah manusia memiliki raja’ dan khauf, mengharapkan rahma dari Allah sebab ibadah kita sangat sedikit sedangkan kita takut akan siksa-Nya karena Allah maha kuasa. Untuk menempuh jalan ini sangat sukar tapi inilah jalan yang benar, paling selamat dan nyata. Jalan ini membawa kita ampunan dan ihsan.












BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari keterangan yang telah kami jelaskan di atas, maka kami dapat menarik benang benang merah bahwa;
- Raja’ adalah ketergantungan hati pada sesuatu yang dicintai yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan khauf adalah meninggalkan sustu hal karena menjauhi siksaan-Nya
- Raja’ dan khauf berarti kembali pada bagian khawatir, yakni hal-hal yang belum dapat diketahui dengan pasti.
- Keharusan seseorang untuk memiliki khauf didasarkan atas dua hal, yaitu; agar terhindar dari kemaksiatan dan agar tidak membangga-banggakan amal sholeh (ujub). Sedangkan keharusan seseeorang memiliki sifat raja’ juga didasarkan atas dua hal yaitu; agar bersenangat dalam melakukan beribadah dan agar terasa ringan menanggung rasa kesusahan dan kesulitan.
Saran dan Kritik
Pemakalah mengharapkan agar apa yang telah dijelaskan di atas dapat dipahami oleh pembaca sekalian, sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Selanjutnya, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan sebagai pembangun guna memperbaiki dalam pembuatan makalah berikutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghozaliy.2006. Minhaj al-Abidin. (terj) Syamsil Hasan. Surabaya. Amelia
_________.2007. Muhtashor Ihya’ Ulum al-Din. (terj). Aida Humairah. Jakarta. Sahara Publisher.
Al-Qusyairi, Abu Qasim. 2002. al-Risalah Qusyairiyah fi al-Ilmi al-Tashawuf. (terj) Umar Faruq. Jakarta. Pustaka Amani.

0 komentar:

Posting Komentar

About This Blog

Lorem Ipsum


Got My Cursor @ 123Cursors.com

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP